SEMUA SEKOLAH DI JAKARTA BERMASALAH KARENA...

Diposting oleh Pendidikan | Minggu, November 18, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com — Semua sekolah, terutama di Jakarta, bermasalah. Demikian penilaian Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di sela-sela kunjungannya ke SMA Negeri Unggulan MH Thamrin, Jalan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (14/11/2012).

Apa yang membuatnya menilai demikian?

"Sebetulnya semua sekolah di Jakarta itu bermasalah karena NEM dijadikan tolok ukur penerimaan," kata Basuki.

Ia menjelaskan, semua sekolah kini mengedepankan hasil nilai ujian untuk menyeleksi siswa barunya. Sementara itu, di sisi lain, banyak siswa miskin yang memiliki kemampuan standar atau bahkan di bawah rata-rata, tetapi ingin merasakan pendidikan berkualitas di sekolah yang baik.

Menurutnya, anak-anak yang berasal dari keluarga mampu selalu dapat mengikuti les atau bimbingan belajar di luar jam sekolah. Walau demikian, siswa dari keluarga miskin sulit merasakan hal serupa karena harus bergumul dengan kesulitan hidup yang menghimpit.

"Para siswa yang mengikuti les pasti anak orang kaya dan nilainya pasti bagus. Lalu bagaimana dengan anak-anak miskin?" tandasnya.

Banyak sekolah, khususnya yang memiliki label rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), tidak dapat memenuhi instruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang mengharuskan sekolah memberikan 20 persen kursinya untuk anak-anak tidak mampu. Alasannya beragam, mulai dari sekolah yang mempersempit akses siswa miskin, hingga karena siswa miskin "ketakutan" belajar di sekolah unggulan karena khawatir dengan tekanan sosial setelahnya.

Sumber: kompas.com

READ MORE - SEMUA SEKOLAH DI JAKARTA BERMASALAH KARENA...

INI DRAF STRUKTUR KURIKULUM BARU SD

Diposting oleh Pendidikan | Minggu, November 18, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com — Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 di sektor pendidikan, penataan kurikulum pendidikan menjadi salah satu target yang harus diselesaikan. Rencananya pada Juni 2013 nanti, sekolah yang ada di Indonesia sudah mulai menggunakan kurikulum baru yang kini masih dibahas. Draf perubahan kurikulum sudah dipaparkan di depan Wakil Presiden Boediono, Selasa (13/11/2012).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan bahwa perubahan kurikulum ini merata untuk setiap jenjang, baik dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK).

"Ini dilakukan di tiap jenjang sekolah. Tujuannya tentu untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah agar anak-anak ini mampu bersaing di masa depan nanti," kata Nuh saat jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Selasa (13/11/2012).

Untuk jenjang SD, anak-anak tidak lagi mempelajari masing-masing mata pelajaran secara terpisah pada kurikulum baru ini. Pembelajaran berbasis tematik integratif yang diterapkan pada tingkatan pendidikan dasar ini menyuguhkan proses belajar berdasarkan tema untuk kemudian dikombinasikan dengan mata pelajaran yang ada.

6 mata pelajaran berbasis tematik

Seperti diketahui, mata pelajaran untuk anak SD yang semula berjumlah 10 mata pelajaran dipadatkan menjadi enam mata pelajaran, yaitu Agama, PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta Seni Budaya dalam kurikulum baru ini. Sementara empat mata pelajaran yang dulu berdiri sendiri, yaitu IPA, IPS, muatan lokal, dan pengembangan diri, diintegrasikan dengan enam mata pelajaran lainnya.

"Memang sewajarnya seperti itu. IPA dan IPS dijadikan penggerak dan masuk dalam materi bahasan semua mata pelajaran. Begitu pula dengan mulok dan pengembangan diri itu kaitannya nanti dengan seni budaya," ujar Nuh.

Dengan pemadatan mata pelajaran dan pembelajaran berbasis tema ini, anak-anak juga tidak akan lagi kerepotan membawa buku  yang banyak dalam tasnya. Nuh mengungkapkan dengan pendekatan tematik ini, anak-anak hanya perlu membawa paling tidak dua atau tiga buku sesuai dengan tema yang dipilih pada minggu tersebut.

Belajar di sekolah lebih lama

Namun, berkurangnya mata pelajaran dalam kurikulum ini justru membuat durasi belajar anak di sekolah bertambah. Nuh menjelaskan bahwa metode baru ini mengharuskan anak-anak untuk ikut aktif dalam pembelajaran dan mengobservasi setiap tema yang menjadi bahasan.

"Pola ini tentu tidak bisa dilakukan dengan durasi belajar sebelumnya. Untuk itu ditambah sebanyak empat jam pelajaran per minggu," kata Nuh.

Dengan demikian, untuk kelas I-III yang awalnya belajar selama 26-28 jam dalam seminggu bertambah menjadi 30-32 jam seminggu. Sementara pada kelas IV-VI yang semula belajar selama 32 jam per minggu di sekolah bertambah menjadi 36 jam per minggu.

"Penambahan jam belajar ini masih sesuai karena dibandingkan negara lain, Indonesia terbilang masih singkat durasinya untuk anak usia 7-9 tahun," ungkap Nuh.

Pramuka jadi ekskul wajib

Dari berbagai paparan di atas, Bahasa Inggris yang sebelumnya sempat disebut-sebut akan dihilangkan memang tidak tercantum dalam salah satu mata pelajaran yang ada. Ternyata untuk tingkat SD ini, Bahasa Inggris masuk dalam kegiatan ekstra kurikuler bersama dengan Palang Merah Remaja (PMR), UKS, dan Pramuka.

"Pramuka ini akan jadi ekskul wajib untuk berbagai jenjang tidak hanya di SD. Nanti akan dibicarakan juga dengan Kemenpora," tuturnya.

Demikian bentuk kurikulum baru yang akan diberlakukan pada anak-anak tingkat SD. Sistem pembelajaran berbasis tematik integratif ini telah dijalankan di banyak negara, seperti Inggris, Jerman, Perancis, Finlandia, Skotlandia, Australia, Selandia Baru, sebagian Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, Hongkong, dan Filipina.

Sumber: kompas.com

READ MORE - INI DRAF STRUKTUR KURIKULUM BARU SD

KURIKULUM BARU, ADA WACANA BUKU PELAJARAN GRATIS

Diposting oleh Pendidikan | Minggu, November 18, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk kurikulum baru yang diterapkan pada Juni 2013 nanti dikabarkan buku-buku pelajaran akan diberikan secara gratis pada guru dan siswa. Tentunya hal ini membuat penerbit buku  merasa khawatir dengan kebijakan yang diperkirakan berlaku pada 2013 ini.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud, Diah Harianti, mengatakan bahwa pihaknya masih menyiapkan model buku dan belum mengetahui perihal masalah percetakan. Namun ia mengakui wacana untuk memberikan buku pelajaran secara gratis memang ada.

"Kami siapkan saja semuanya. Dicetak oleh negara atau swasta, kami masih belum tahu. Tapi untuk buku gratis itu memang ada rencana," kata Diah kepada Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

Terkait wacana ini, ia mengungkapkan bahwa pihaknya selalu mengingatkan pada para penerbit agar tidak bergantung pada pembuatan buku pelajaran sekolah saja. Pasalnya, suatu hari nanti buku pelajaran sekolah ini memang akan digratiskan untuk para guru dan siswa.

"Sekarang sudah ada program wajar 12 tahun yang semestinya sudah bebas biaya untuk negeri. Tapi walaupun ada yang gratis, urusan buku kadang belum sepenuhnya bebas biaya," ujar Diah.

"Padahal urusan buku ini yang kerap dikeluhkan oleh orang tua siswa karena tidak murah. Untuk itu, buku pelajaran digratiskan ini mungkin terjadi," imbuhnya.

Sementara itu Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim, mengatakan bahwa banyak keluhan yang masuk karena urusan buku yang memakan biaya besar dari para orang tua siswa. Ditambah lagi, kurikulum yang berlaku saat ini memang membutuhkan buku yang banyak.

"Nanti akan disuplai langsung dari pemerintah untuk buku. Ini bisa menghemat pengeluaran pendidikan juga bagi orang tua," ujar Musliar.

Sumber: kompas.com

READ MORE - KURIKULUM BARU, ADA WACANA BUKU PELAJARAN GRATIS

GURU: UNTUK NASIONAL, UKG LEBIH BAIK TERTULIS SAJA

Diposting oleh Pendidikan | Jumat, November 09, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com - Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih menyisakan berbagai persoalan. Salah satunya adalah kendala jaringan sambungan internet yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Salah seorang guru SMK Negeri 2 Raha, Muna, Sulawesi Tenggara yaitu La Ode Daerah, mengatakan bahwa pelaksanaan UKG yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu masih terkendala masalah jaringan. Menurutnya, akan lebih efektif jika UKG dilakukan dengan metode tertulis.

"Sebenarnya kalau kebutuhannya untuk nasional, ya lebih baik dilakukan secara tertulis karena tidak semua daerah bisa mengakses jaringan dengan baik," kata La Ode kepada Kompas.com, Jumat (9/11/2012).

Ia menuturkan bahwa wilayahnya yang berada di Sulawesi Tenggara tersebut sulit mendapat jaringan untuk sambungan internet. Bahkan terkadang soal yang diujikan juga tidak keluar secara lengkap karena sinyal internet yang lemah di wilayahnya.

Terkait dengan pelaksanaan UKG lanjutan yang telah digelar sejak Senin (5/11/2012) lalu, ia mengatakan bahwa pihaknya belum mendapat sosialisasi dari pihak Dinas Pendidikan setempat. "Sampai saat ini belum ada sosialisasi tentang UKG lanjutan ini. Jadi kami juga tidak tahu itu akan dilaksanakan di sini atau tidak," jelas La Ode.

Seperti diberitakan sebelumnya, UKG kembali dilakukan pada Senin lalu sebagai kelanjutan dari UKG Gelombang Kedua yang semestinya selesai pada Jumat (2/11/2012) lalu. Pelaksanaan UKG lanjutan ini diperuntukkan bagi para guru yang tidak ikut lantaran sedang menunaikn ibadah haji atau sakit.

Beberapa daerah juga memilih menyelenggarakan UKG secara tertulis karena keterbatasan sinyal dan listrik yang belum dapat menjangkau daerah-daerah tersebut. Sebagian besar daerah tersebut memang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sumber: kompas.com

READ MORE - GURU: UNTUK NASIONAL, UKG LEBIH BAIK TERTULIS SAJA

DARI GAMBAR PENYU TURUN KE PERILAKU

Diposting oleh Pendidikan | Jumat, November 09, 2012



TANGERANG, KOMPAS.com - Mau menyelamatkan lingkungan hidup di masa depan? Mulailah dari anak-anak.

Ini sangat dipercaya oleh Oppie Andaresta saat merintis sampai melaksanakan kampanye Tur Edukasi Bumiku Lestari ke sekolah-sekolah di Jabodetabek dan sejumlah sekolah di luar Jawa. Menurutnya, anak-anak adalah agen perubahan yang efektif untuk menjamin keseimbangan ekosistem di masa depan.

Oleh karena itu, transfer pesan dilakukan pula dengan cara anak-anak, cara yang menyenangkan dan menarik. Bisa lewat musik, lagu dan tarian, lewat dongeng dan storytelling, lewat baca buku  atau lewat kegiatan menggambar dan mewarnai.

Dalam tur yang dilakukan ke 9 sekolah se-Jabodetabek yang akan digelar 3-20 November mendatang, untuk anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) sampai sekolah dasar (SD), Oppie dan kru menyampaikan pesan pola hidup ramah lingkungan melalui dongeng, lagu dan musik serta kegiatan mewarnai. Dalam tur yang dilakukan di Sekolah Harapan Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Rabu lalu, kru Mobil Panda dari World Wild Fund (WWF) yang digandeng sebagai mitra tur menyiapkan gambar penyu dan orang utan dalam warna hitam putih.

Anak-anak yang duduk di kelas Kelompok Bermain (KB) tampak antusias saat mewarnai dengan pensil warna dan krayon yang sudah disediakan oleh panitia tur. Meski waktu akan segera habis, sebagian besar masih asyik mewarnai kertas bergambar yang mereka telah terima.

"Dengarkan anak-anak. Segera kumpulkan gambarnya ya. Kita akan ada acara mendengarkan lagu dan musik lagi di luar," ungkap Sri, salah satu guru KB dalam bahasa Inggris, bahasa pengantar di sekolah ini.

"Zea belum selesai?" tanyanya kepada seorang siswanya.

Gadis kecil berambut panjang itu menggeleng. Dia masih asyik berkreasi mewarnai gambar penyu laut yang diterimanya sambil sesekali sibuk memilih krayon di depannya. Setelah ditunggu, akhirnya Zea mengumpulkan hasil kreasinya itu.

Penyu diwarnainya dengan warna hijau muda, laut dengan warna biru dan tulisan 'Sahabat Satwa: Penyu' di atasnya dengan warna merah muda. Ketika ditanya tentang gambar apa, Zea mengangguk lalu menjawab sambil tersenyum.

"Ini gambar penyu. Hidupnya di laut yang bersih," tuturnya.

Sementara itu, teman Zea, Nathaya, akhirnya selesai mewarnai gambar orang utan. Dengan malu-malu, Nathaya mengatakan orang utan hidup di hutan.

"Hutan dijaga supaya orang utan bisa hidup," ungkapnya polos.

Sri mengatakan bahwa sebelum mewarnai anak-anak diberi penjelasan terlebih dahulu bahwa satwa-satwa ini perlu dilindungi. Caranya, dengan menjaga kelestarian alam sekitar. Paling tidak, lanjutnya, para siswanya terus dilatih untuk membuang sampah pada tempatnya.

Turun ke perilaku

Melalui kampanye seperti ini, anak-anak lebih mudah menerima pesan yang ingin disampaikan. Dari gambar, lagu, dongeng sampai prakarya, pesan positif yang ingin ditanamkan bisa diterima dengan mudah oleh otak anak dan akhirnya turun ke perilaku.

Namun, upaya ini butuh waktu panjang. Orangtua dan guru menjadi ujung tombak dari kampanye-kampanye mengenai pola hidup yang positif bagi anak.

Kepala SD dan SMP Skeolah Harapan Bangsa, Melany K Gigir mengatakan, sekolah memiliki program berkala yang diintegrasikan dalam interaksi dan pengajaran di sekolah setiap hari. Selain itu, sekolah juga kerap membina komunikasi yang efektif dengan orangtua siswa untuk memberitahukan kebiasaan-kebiasaan positif yang tengah diupayakan sekolah bagi anak-anaknya.

"Kita ada pertemuan orangtua murid dan guru yang rutin. Jadi kita sampaikan program sekolah dan kebiasaan di sekolah yang sedang dikembangkan. Kalau di sekolah kita ajarin tapi kalau di rumah enggak diterusin kan sama aja," tuturnya.

Romi, salah satu orangtua murid yang didaulat sebagai gitaris bintang tamu dalam tur ini mengatakan juga turut memberi pengajaran tentang pola hidup ramah lingkungan kepada anaknya, Fae, yang masih berusia playgroup.

"Iya, kita sinergi dengan sekolah. Saya ajarin ke anak saya untuk buang sampah misalnya pada tempatnya, kalau lagi sikat gigi pakai gelas, terus kalau misalnya mau ke tempat yang dekat, naik sepeda aja. Kebetulan, saya aktif Bike to Work," katanya di sela acara tur.

Menurutnya, anak-anak perlu diingatkan dengan teladan dan cara-cara yang menarik. Dengan demikian, dia memiliki pola perilaku yang positif untuk lingkungan sekitarnya.

Sumber: kompas.com

READ MORE - DARI GAMBAR PENYU TURUN KE PERILAKU

BAHASA INGGRIS AKAN DIHAPUS DARI KURIKULUM SD

Diposting oleh Pendidikan | Jumat, Oktober 12, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com — Mata pelajaran Bahasa Inggris tidak akan lagi dimuat dalam kurikulum wajib untuk siswa sekolah dasar (SD) yang akan diberlakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun ajaran 2013-2014. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Musliar Kasim mengatakan, mata pelajaran ini ditiadakan untuk siswa SD karena untuk memberi waktu kepada para siswa dalam memperkuat kemampuan bahasa Indonesia sebelum mempelajari bahasa asing.

"SD tidak ada pendidikan Bahasa Inggris karena Bahasa Indonesia saja belum ngerti. Sekarang ada anak TK saja les Bahasa Inggris. Kalau bahasa kasarnya, itu haram hukumnya. Kasihan anak-anak," kata Musliar, di Park Hotel, Jakarta, Rabu (10/10/2012).

Ia menegaskan bahwa aturan ini harus diikuti oleh semua sekolah. Namun, jika ada sekolah yang menjadikan mata pelajaran Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran tambahan, itu merupakan persoalan lain dan akan dipertimbangkan lagi.

"Sekolah harus ikuti ini kalau dijadikan tambahan itu persoalan lain. Akan tetapi, untuk sekolah negeri, jelas tidak boleh," ujar Musliar.

Untuk sekolah internasional yang umumnya menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar, pihaknya belum melakukan kajian mendalam. Namun, kurikulum baru ini tetap akan dirumuskan dan untuk sekolah internasional akan diatur belakangan.

"Kurikulum tetap kami buat, tetapi untuk internasional akan kita atur belakangan. Yang jelas mereka harus ikuti ketentuan kurikulum kita, enggak boleh lepas," tandasnya.

Seperti diketahui, kurikulum untuk siswa SD akan dipadatkan hanya enam mata pelajaran, yaitu Pendidikan Agama, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Matematika, Seni Budaya, dan Pendidikan Jasmani dan Kesehatan. Namun, ini baru disepakati untuk siswa kelas 1-3 saja, sedangkan kelas 4-6 masih didiskusikan lagi.

Sumber: kompas.com

READ MORE - BAHASA INGGRIS AKAN DIHAPUS DARI KURIKULUM SD

LAWAN "BULLYING", TUMBUHKAN EMPATI

Diposting oleh Pendidikan | Sabtu, Oktober 06, 2012



KOMPAS.com - Tawuran yang mengakibatkan korban jiwa masih menjadi topik hangat kita minggu ini. Sebenarnya ada bibit kekerasan fisik maupun mental yang enggak kalah buruk akibat dari tawuran. Kekerasan itu bahkan sering kali kita anggap ”biasa”. Itulah ”bullying”.

Kita sendiri mungkin enggak sadar sudah melakukan bullying, atau korban bullying. Seorang siswa bercerita, dia sampai memilih pindah sekolah karena tak tahan dikucilkan temannya. Ketika waktu perpisahan tiba, pelaku bullying tak merasa bahwa si teman terpaksa pindah sekolah akibat kelakuannya.

Seorang siswa lain sampai tak meneruskan mengikuti ekskul paskibra karena bentakan dan kata-kata sinis yang diucapkan seniornya. ”Waktu saya cerita ke teman lain, dia malah bilang, ’Itu biasa. Itu kan usaha dia buat mendisiplinkan kita, anak baru’,” ceritanya.

Siswi sebuah SMK di Jakarta Selatan pun sempat ditarik tiga siswi seniornya ke toilet sekolah. Di tempat ini, ia diinterogasi bak pesakitan, gara-gara siswi senior curiga si yunior jatuh hati kepada cowok yang diincarnya. Lama kemudian si yunior masih merasa ketakutan, meski sang senior menganggap masalah selesai.

”Bullying itu bisa berupa pengucilan, pelecehan, pemalakan, intimidasi, ejekan, gosip, fitnah, sampai kekerasan fisik. Semakin si korban merasa tertekan atau takut, semakin senang pelaku bullying. Kami di sini biasanya mendampingi korban,” kata Amanda (16), salah seorang sukarelawan Caring Teens Community (CTC) yang berkolaborasi dengan Yayasan Semai Jiwa Amini (Sejiwa).

Nabila (17), sukarelawan lainnya bercerita, sebenarnya sejak SD sudah tahu tentang bullying dari sang bunda, seorang psikolog. ”Tetapi biarpun secara teori tahu, praktiknya enggak gampang. Buat si korban, ledek-ledekan meski cuma ucapan, sudah cukup membuat dia enggak nyaman. Efeknya dia jadi takut atau malu banget. Setiap orang, kan, punya kadar toleransi ’bercanda’ yang beda,” katanya.

Korban sekaligus pelaku

Abu (19) dan Dian (16), sukarelawan CTC lainnya bercerita, dalam kasus bullying bisa jadi pelaku sebenarnya juga korban bullying. Abu mencontohkan, siswa yang di rumah dijadikan bulan-bulanan orangtua/ortu (berarti korban), bisa mengalihkan rasa kesalnya dengan menggertak teman di sekolah (pelaku).

Amanda menambahkan, dari pengalamannya berbagi pengetahuan tentang bullying di sebuah sekolah di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, ia mendapati siswa yang dengan entengnya memukul teman. Si siswa mengaku, memukul adalah hal biasa karena dia pun sering dipukul ortu meski hanya untuk hal sepele.

Diena Haryana, Ketua Yayasan Sejiwa, lembaga yang aktif berkampanye melawan bullying, menambahkan, kedekatan hubungan keluarga penting untuk membantu anak memiliki rasa aman. Kondisi itu berdampak pada kerja otak yang seimbang, termasuk hormonnya.

”Biasanya anak jadi percaya diri, mampu berpikir, kreatif, pandai bergaul, dan bersemangat. Potensi dirinya akan muncul, berbagai kecerdasannya siap diasah. Dia siap berprestasi. Kondisi itu tak memandang latar belakang sosial-ekonomi keluarga. Sebaliknya, perilaku keras ortu kepada anak juga bisa terjadi pada semua kalangan,” katanya.

Namun yang terburuk, tambah Diena, perilaku keras ortu kepada keluarga dengan tingkat sosial ekonomi rendah. Di sini anak mengalami situasi buruk, yaitu kekerasan dan tekanan ekonomi yang mengimpit batin. ”Dia bisa menjadi anak yang sulit dikendalikan karena merasa kesepian, terbuang, rendah kepercayaan dirinya.”

Mengapa bullying muncul terutama saat kita remaja? Menurut Diena, karena secara hormonal kita lagi mengalami perubahan. Tanpa ada bullying pun, remaja cenderung sensitif dan galau. Apalagi kalau kita harus menghadapi bullying juga. ”Mereka jadi mudah terpicu emosinya, dan bereaksi sesuai dasar kepribadian masing-masing.”

Kemungkinan reaksi itu ada tiga, yakni Fight (yang berarti ia melawan, menunjukkan rasa marah dengan mengamuk), Flight (melarikan diri dari luka batin, ini bisa ke arah negatif seperti narkoba, miras, internet tak sehat/pornografi), dan Freeze (sikapnya ”membeku”, ia kehilangan nalar sehat, tak mampu berpikir, depresi, tak termotivasi untuk hidup).

”Kalau korban bullying memilih Fight, dia akan mengeluarkan energi marahnya tanpa rasa takut. Ini lalu membuat dia jadi pelaku bullying. Tetapi kalau korban bereaksi Freeze, dia benar-benar korban yang memerlukan empati, bahkan pada tingkat yang lebih parah bisa jadi depresi,” lanjut Diena.

Berdampak panjang

Banyak alasan pelaku bullying, di antaranya ingin mendisiplinkan yunior, pengin unjuk kuasa, kesal pada bahasa tubuh atau tingkah laku korban. Di sisi lain, sasaran sebagai korban bullying bisa siapa saja. Misalnya, mereka yang dianggap pelaku secara fisik tampak lebih lemah, menjengkelkan, tak mampu berinteraksi dengan pelaku, sampai pada hal fisik seperti gendut dan gagap.

Kondisi itu diperburuk penilaian di sekitar kita yang tak menjadikan bullying sebagai masalah. Akibatnya, sampai menjadi mahasiswa, bahkan sudah bekerja pun, korban bullying tetap tak mampu membela diri. Sedangkan pelaku bullying (karena tak merasa bersalah dan tak pernah dikoreksi ortu/guru) makin menjadi-jadi, kekerasan menyatu dalam kepribadian mereka.

”Pada MOS atau OSPEK, siswa kelas X atau mahasiswa baru harus menerima apa pun perlakuan dari seniornya. Mereka tampak tak berdaya. Saat inilah awal bullying berkelanjutan atau lingkaran bullying terjadi,” kata Diena.

Di sini para senior mendapatkan korban empuk untuk dijadikan sasaran kemarahan atau kekecewaan, yang umumnya mereka bawa dari rumah. Hal yang merisaukan adalah, perilaku jagoan dari senior itu menjadi teladan bagi yuniornya, yang langsung meniru begitu ada kesempatan. ”Apalagi kalau para senior memang berniat merekrut yunior untuk meneruskan tradisi kekerasan.”

Untuk mengurangi bullying, perlu pemahaman tentang perilaku bullying dan seluk beluknya. Ini bisa diajarkan lewat salah satu mata pelajaran di sekolah seperti PPKN atau pendidikan karakter.

”Saat tahu apa itu bullying dan dampaknya, banyak siswa yang memperbaiki sikap mereka. Ada pelaku yang langsung menghentikan sikap kerasnya, bahkan ada anak yang lalu menjadi pelatih untuk mengajarkan antikekerasan seperti meningkatkan sikap respek, kasih, peduli dan toleran,” kata Diena yang mengadakan penelitian bullying pada siswa tingkat SD dan SMA.

Sependapat dengan Diena, menurut Amanda dan Nabila, untuk mengekspresikan diri secara positif, seharusnya bagi remaja disediakan berbagai sarana, seperti untuk berteater, bermusik, olahraga, sampai terlibat dalam kegiatan sosial.

”Buat pelaku bullying lebih baik kalau pelaku diberi sanksi bekerja sosial seperti merawat orang tua, atau membersihkan panti tempat tinggal anak yatim,” kata Amanda.

Diena menambahkan, untuk menolong korban, kita bisa menunjukkan empati, tapi jangan berlebihan. ”Cukup kita ada di sekitar korban, enggak usah tanya perkara bullying yang menimpa dia. Kalau dia cerita, kita dengarkan. Buat korban merasa nyaman, dia biasanya sensitif dan enggak pengin ditemui, cenderung menjauhi sosialisasi.”

Ehm, kalau kita sudah tahu bullying itu negatif buat pelaku maupun korban, enggak benar, kan, kalau membiarkannya tetap terjadi....

Sumber: kompas.com

READ MORE - LAWAN "BULLYING", TUMBUHKAN EMPATI

KURIKULUM BARU, HANYA 7 MATA PELAJARAN UNTUK SD

Diposting oleh Pendidikan | Sabtu, Oktober 06, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Jenderal Pendidikan Dasar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Pendidikan Dasar Kemdikbud) Suyanto menyampaikan rencananya untuk menyederhanakan jumlah mata pelajaran di tingkat sekolah dasar (SD). Dari rata-rata SD saat ini yang memiliki 11 mata pelajaran, tahun depan akan disederhanakan menjadi sekitar tujuh mata pelajaran.

"Disederhanakan menjadi tujuh pelajaran dan supaya pola pikirnya sesuai usia anak-anak," kata Suyanto saat ditemui di gedung Kemdikbud, Jakarta, Senin (1/10/2012).

Dia menegaskan, jumlah mata pelajaran di SD akan disederhanakan, tetapi muatannya lebih mendalam, khususnya dengan materi yang dapat mengembangkan sikap peserta didik. Hal tersebut berbeda dengan kondisi kurikulum saat ini yang memiliki cakupan terlalu luas, tetapi dengan materi yang tidak dalam.

"Nanti akan sederhana, tetapi dalam. Kalau sekarang cakupannya luas, tetapi dangkal," ujar Suyanto.

Peleburan mata pelajaran seperti IPA dan IPS, lanjutnya, masih dalam diskusi panjang. Pasalnya, perdebatan perlu atau tidaknya pemisahan kedua mata pelajaran ini masih mengemuka.

"IPA dan IPS mungkin namanya akan menjadi pengetahuan umum, tapi belum final dan masih digodok. Yang jelas IPA dan IPS sangat jadi perhatian. Mungkin general dulu, makin naik makin mengerucut," ungkapnya.

Ditemui di lokasi yang sama, Direktur Pembinaan SD Ditjen Dikdas Kemdikbud Ibrahim Bafadal menyampaikan hal senada. Menurutnya, kemungkinan jumlah mata pelajaran di SD disederhanakan sangatlah besar. Akan tetapi, semuanya harus condong pada materi yang dapat mengembangkan sikap peserta didiknya.

"Bisa disederhanakan jumlahnya. Yang sudah tidak bisa ditawar itu Pendidikan Agama, PPKN, Bahasa Indonesia, dan Matematika," pungkasnya.

Evaluasi dan perombakan kurikulum pendidikan nasional terus mengemuka. Meski belum final, beberapa wacana sudah dilontarkan oleh Kemdikbud. Nantinya, peserta didik di SD akan diprioritaskan memperoleh mata pelajaran yang dapat membentuk sikap, sementara siswa SMP diarahkan pada keterampilan, dan peserta didik di SMA dipenuhi dengan mata pelajaran yang mampu membangun pengetahuan.

Kurikulum baru ini akan mulai disosialisasikan dan diuji publik sebelum Februari 2013, dan mulai berlaku pada tahun ajaran 2013-2014.

Sumber: kompas.com

READ MORE - KURIKULUM BARU, HANYA 7 MATA PELAJARAN UNTUK SD

SEGERA TERBIT, PERMENDIKBUD PENANGANAN TAWURAN

Diposting oleh Pendidikan | Kamis, Oktober 04, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan menerbitkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) tentang pencegahan kekerasan dan tawuran pelajar serta penanganannya, termasuk di antaranya mengatur soal sanksi yang dapat dijatuhkan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, instrumen kebijakan tersebut dibuat untuk mempersiapkan peserta didik agar tidak terkontaminasi hal-hal buruk, terutama terkait dengan kekerasan dan perkelahian pelajar.

Permendikbud itu nantinya akan berlaku untuk semua pihak, mulai dari murid, orangtua, guru, OSIS, hingga kepala sekolah, tentang apa langkah-langkah yang harus dilakukan jika terjadi tawuran. "Bentuknya seperti SOP, termasuk juga mengatur sanksi. Jadi semuanya terbuka untuk diberi sanksi, murid, guru, kepsek, juga institusi sekolah itu sendiri," terang Nuh, di Hotel The Sultan, Jakarta, Selasa (2/10/2012) malam.

Tujuan dan tema besar dari Permendikbud itu di antaranya untuk semakin menegakkan disiplin di dalam sekolah. Selain itu, akan ditekankan bagi seluruh sekolah untuk mulai membangun jejaring antarsekolah. "Salah satunya dengan membuat kegiatan antarsekolah agar hubungan antarsekolah semakin kuat dan saling mengenal," tandasnya.

Regulasi baru itu juga nantinya dapat bermanfaat untuk memberi dukungan penuh terhadap kepolisian untuk memberi hukuman kepada pihak-pihak yang bersalah. "Ini semua dilakukan karena basisnya kecintaan kita kepada adik-adik semua agar tidak terjebak dalam yang negatif," tegas Nuh.

Sumber: kompas.com

READ MORE - SEGERA TERBIT, PERMENDIKBUD PENANGANAN TAWURAN

INI SYARAT JIKA SWASTA MAU DIRIKAN SMK

Diposting oleh Pendidikan | Sabtu, September 22, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah memberi peluang bagi masyarakat atau pihak swasta untuk mendirikan sekolah menengah kejuruan (SMK). Khusus di tingkat SMK, Direktur Pendidikan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Hamid Muhammad mengatakan, swasta digandeng dalam rangka pengguliran  program Pendidikan Menengah Universal (PMU). Syaratnya, pendirian dan pelaksanaan pembelajarannya harus sesuai dengan standar pelayanan minimal (SPM).

"Membangun sekolah itu tanggungjawab negara, tapi kalau swasta mau ikut mendirikan boleh saja. Syaratnya harus sesuai SPM," kata Hamid saat ditemui Kompas.com, di gedung Kemendikbud, Jakarta, Jumat (14/9/2012).

Hamid menjelaskan, proporsi jumlah sekolah di pendidikan menengah cukup variatif. Jumlah SMA sebanyak 60 persen, lebih besar dari jumlah SMK yang hanya 40 persen. Mengenai proporsi siswanya, jumlah siswa di SMK swasta jauh lebih banyak, yakni sekitar 63 persen dibandingkan jumlah siswa di SMK negeri yang hanya 37 persen.

"Partisipasi masyarakat tentunya akan membantu, walau mendirikan sekolah itu harus sabar, orientasinya bukan keuntungan karena untuk mencapai break even point cukup memakan waktu," pungkasnya.

Selain memperlebar akses ke pendidikan menengah, pemerintah mendorong lulusan tingkat SMP untuk melanjutkan ke SMK. Dorongan ini bertujuan untuk mencetak sumber daya manusia yang siap kerja seiring dengan upaya mengurangi jumlah pengangguran di usia produktif dan menekan angka kemiskinan. Ke depan, proporsi jumlah SMK akan lebih banyak dibandingkan SMA, yakni sekitar 60 persen untuk SMK dan 40 persen untuk SMA.

Sumber: kompas.com

READ MORE - INI SYARAT JIKA SWASTA MAU DIRIKAN SMK

INI MODUS POLITISASI GURU DALAM PILKADA DKI

Diposting oleh Pendidikan | Rabu, September 19, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com - Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta putaran kedua hanya dalam hitungan hari. Dalam perjalanannya, terungkap beberapa modus dugaan politisasi guru di dalamnya yang dilakukan oleh birokrasi pendidikan.

 Ketua Forum Musyawarah Guru Jakarta (FMGJ), Retno Listyarti menyampaikan, beberapa modus  politisasi guru dalam Pilkada DKI Jakarta adalah sebagai berikut:

Pertama, baliho yang dibuat beberapa sekolah dan berisi ucapan terima kasih kepada Gubernur DKI Jakarta saat ini atas diluncurkannya program wajib belajar 12 tahun yang biaya pembuatannya berasal dari kas sekolah.

"Tindakan ini berasal dari inisiatif kepala sekolah atas perintah Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta," kata Retno, saat menggelar deklarasi guru menolak politisasi guru dalam Pilkada DKI, di kantor Indonesia Corruption Watch (ICW), Jakarta, Selasa (18/9/2012).

Kedua, sebuah sekolah, yakni SMKN 57 Pasar Minggu, yang memberikan uang transport kepada guru yang berdomisili di luar Jakarta tetapi memiliki hak memberikan suara pada Pilkada DKI Jakarta. Insentif gelap itu berasal dari kocek pribadi kepala sekolah yang nominalnya berkisar antara Rp 50 ribu sampai Rp 100 ribu.

 "Itu dilakukan wakil kepala sekolah berdasarkan perintah kepala sekolah untuk mencari guru yang dimaksud," ungkap Retno.

Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) ini menambahkan, pada 8 September 2012 ada kegiatan Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (MGMP PKn) di SMPN 85 Jakarta Selatan. Dalam kegiatan yang dihadiri oleh seluruh guru PKn SMP se-Jakarta Selatan itu, Ketua MGMP berkesempatan membuka kegiatan dan disusul dengan pengarahan dari Sekretaris Musyawarah Kepala-Kepala Sekolah (MKKS), Tajudin. Dalam pertemuan itu, pokok pengarahannya difokuskan untuk memilih salah satu calon Gubernur DKI Jakarta karena telah berjasa atas kepentingan komunitas guru.

Lebih jauh, para guru juga diminta membuat soal tertulis untuk tugas terstruktur. Di mana para siswa-siswi nantinya diharuskan mewawancarai orangtuanya untuk mengisi tugas tersebut.

 "Ini jelas terstruktur dan masif. Arahnya untuk memetakan jumlah suara salah satu calon," ujar Retno.

Pada kesempatan yang sama, seorang guru honorer sebuah SMP Negeri di Jakarta Utara, Erna menyampaikan, pada 2 September 2012 lalu ada pertemuan seluruh tenaga pendidik honorer di Gelanggang Olahraga Ragunan. Dalam acara itu, semua peserta diarahkan untuk memilih salah satu calon tertentu pada Pilkada DKI putaran kedua.

 "Iya itu benar, kami honorer se-Jakarta hadir dan ada instruksi itu," ungkapnya.

Merujuk pada data FMGJ, modus-modus serupa masih banyak terjadi. Umumnya diselubungkan dalam berbagai kegiatan. Seperti halal-bihalal, musyawarah guru, ceramah guru sampai pada ceramah keagamaan di masjid-masjid sekolah.

Sumber: kompas.com

READ MORE - INI MODUS POLITISASI GURU DALAM PILKADA DKI

ADU STRATEGI HADAPI 20 TIPE SOAL UN

Diposting oleh Pendidikan | Selasa, September 18, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com - Sekolah, terutama para guru yang bertugas menyiapkan siswanya untuk menghadapi Ujian Nasional (UN) model baru, kini sudah mulai memetakan strateginya. Hal ini terkait rencana pemerintah yang akan mengeluarkan kebijakan baru membuat 20 tipe soal UN untuk mengurangi kecurangan, dan mengintegrasikan hasil UN sebagai instrumen untuk masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Guru Bidang Kurikulum SMAN 68 Jakarta Anwar Fari mengatakan, jika standar kompetensi lulusan sudah diperbaharui melalui sistem tersebut, sekolah akan tetap memperhatikan kompetensi dasar dan melakukan persiapan lebih dalam.

"Kalau sudah ada surat keputusan dan acuan yang jelas, sekolah akan mengikutinya," ujar Farid saat dihubungi kompas.com, Senin (17/9/2012).

Meski belum digulirkan secara resmi, Farid mengatakan rencana pengadaan 20 tipe soal UN bisa membawa perubahan. Menanggapi hal demikian, sekolah hanya akan mengajak para siswa untuk belajar lebih giat lagi.

"Belajar saja terus dari tahun lalu juga seperti itu, maka kalau ada perubahan lagi, nanti diberitahukan kepada siswa untuk lebih giat lagi menghadapi tantangan baru. Dan lagi pula, ini sebenarnya tidak ada perbedaan, hanya porsinya saja," kata Farid.

Menurut Farid, sebenarnya soal yang nanti diberikan pada siswanya adalah sama, yakni berjenis multiple choice. Sifatnya juga lebih kepada pemahaman materi dari setiap mata pelajaran yang diujikan.

"Jadi modelnya tetap sama-sama pilihan ganda. Persiapannya hanya perlu pemantapan khusus dengan belajar terus materinya dan menganalis bentuk dan kedalaman soal-soal," jelasnya.

Sama halnya dengan tanggapan Nurliana, Kepala SMUN 94 Semanan Jakarta Barat. Dia menganggap pengadaan 20 tipe soal UN sebagai tantangan, sehingga para guru tetap perlu memikirkan strategi pembelajaran untuk mencapai semua tujuan pendidikan.

"Kami akan menjadikannya tantangan. Tetap memeriksa persiapan mengajar guru, mengawasi pelaksanaan pembelajaran dan mengadakan evaluasi serta menganalisa hasil evaluasi," ucapnya, membocorkan strategi belajar mengulang atau remedial dan pengayaan belajar sesuai hasil analisis sekolahnya.

"Bukan hanya itu saja, siswa pun harus diberi motivasi agar lebih semangat belajar. Bekal seperti ini juga berguna untuk hidup mereka ke depannya, karena sehebat apapun guru semua tergantung siswanya," katanya.

Menurutnya, strategi yang perlu dilakukan adalah dengan membiasakan siswanya menghadapi variasi soal dari sekarang, sehingga meskipun berbeda jenisnya, materi yang diujikan tidak jauh berbeda dengan pelajaran di kelas.

"Kecuali pengayaan soal-soal SMPTN terus dicampuradukkan," cetusnya.

Sumber: kompas.com

READ MORE - ADU STRATEGI HADAPI 20 TIPE SOAL UN

SOAL UN 2013 AKAN DIUBAH

Diposting oleh Pendidikan | Jumat, September 14, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com — Materi soal ujian nasional jenjang SMA/MA/SMK pada 2013 direncanakan berubah. Hal itu untuk mengikuti keinginan pemerintah mengintegrasikan hasil ujian nasional untuk seleksi masuk calon mahasiswa di perguruan tinggi negeri lewat jalur undangan.

Nantinya soal ujian nasional (UN) SMA/MA/SMK didesain untuk mengukur prestasi siswa di jenjang akhir pendidikan menengah sekaligus memprediksi potensi siswa di perguruan tinggi. Akhir September 2012, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan beserta Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) ditargetkan punya format yang akan dibahas bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) Indonesia.

”Pemerintah dan BSNP akan segera rapat membahas integrasi UN SMA/MA/SMK dengan seleksi perguruan tinggi. Kemungkinan ada perubahan soal UN yang sekaligus bisa untuk seleksi PTN,” kata Djemari Mardapi, anggota BSNP, di Jakarta, Rabu (12/9/2012).

Menurut dia, pengintegrasian UN dengan seleksi masuk PTN selama ini masih pro-kontra. Sebab, UN untuk mengukur prestasi siswa di sekolah, sedangkan seleksi PTN memprediksi potensi akademik dan keberhasilan calon mahasiswa selama kuliah.

”Kami sedang mencoba untuk mengintegrasikan kebutuhan mengevaluasi prestasi dan prediksi lewat pelaksanaan UN,” kata Djemari.

Jika terlaksana, anggaran pelaksanaan UN dan seleksi masuk PTN yang besar bisa diefektifkan. Namun, mutunya tetap sesuai kebutuhan dengan yang diinginkan pemerintah dan PTN.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, pemanfaatan hasil UN SMA/MA/SMK untuk masuk PT, khususnya PTN, harus dilaksanakan. Selama ini, hasil UN pada jenjang SD/MI dipakai dalam seleksi masuk SMP/MTs, sedangkan hasil UN SMP/MTs untuk SMA/MA/SMK. Namun, hasil UN SMA sederajat belum sepenuhnya diakui PTN karena dinilai belum valid akibat tingginya dugaan kecurangan.

”Kalau integrasi hasil UN ke seleksi masuk PTN terlaksana, beban siswa berkurang. Tidak hanya meringankan biaya, tetapi siswa tidak stres karena konsentrasi di UN sudah bisa dipakai untuk seleksi di PTN,” ujar Nuh.

Sementara itu, Ketua Majelis Rektor PTN Indonesia Idrus Paturusi mengatakan, wacana integrasi hasil UN untuk seleksi PTN mulai diterima kalangan PTN. Namun, formatnya masih perlu dibahas.

”Bisa jadi dengan bobot persentase nilai UN dan nilai rapor,” kata Idrus, yang juga Rektor Universitas Hasanuddin, Makassar.

Kecurangan UN

Terkait dengan kecurangan UN, Nuh menjelaskan, pemerintah berupaya lebih untuk meminimalkan hal itu tahun depan. Caranya, membuat soal dalam 20 variasi atau lebih.

Ada juga rencana pemerintah menaikkan standar minimal kelulusan UN tahun 2013. Apalagi, kelulusan UN sudah mencapai 99 persen lebih. (ELN)

Sumber: kompas.com

READ MORE - SOAL UN 2013 AKAN DIUBAH

KENALKAN KEBERAGAMAN DAN TOLERANSI SEJAK DINI

Diposting oleh Pendidikan | Senin, September 10, 2012



TANGERANG, KOMPAS.com — Mengenalkan keberagaman agama sejak dini harus menjadi agenda prioritas sekolah. Rasa toleransi terhadap keberagaman itu harus dibangun sejak dini dalam diri anak-anak. Dengan demikian, nantinya, mereka akan hidup dengan pemahaman yang benar akan keberagaman dan bisa menghormati keberagaman dalam interaksi mereka dengan teman-temannya.

Keberagaman dan nilai toleransi harus dikenalkan secara rutin oleh sekolah, termasuk melibatkan semua siswa dalam perayaan hari besar agama, seperti yang dilakukan siswa-siswi Early Childhood Years (pra-TK) dan Elementary (SD) Binus International School (BIS) Serpong, Tangerang, Banten, melalui kegiatan ECY-EL Idul Fitri Celebration 2012, Jumat (7/9/2012).

Dalam acara ini, seruan seperti "Show me love, show me peace, dan Mohon maaf lahir dan batin" ditekankan oleh Kepala ECY-EL Binus International School Elsie L Bait ketika meminta para siswanya saling berjabat tangan bersama teman dan guru yang beragama lain. Dengan demikian, kata cinta atau kasih dan damai terpatri dalam pikiran anak-anak sejak dini.

"Supaya kegiatan sekolah pun berjalan baik dan pertemanan mereka menjadi harmonis," ungkapnya saat berbincang dengan Kompas.com.

Elsie menuturkan, dalam acara bertema "Gembira di Hari Kemenangan" itu, para siswa yang beragama lain juga dilibatkan dalam perayaan ini. Sementara itu, anak-anak yang beragama Islam menampilkan bakatnya melalui pementasan drama musikal, tarian, nyanyian, dan juga shalawat yang khas ala umat Muslim yang menggelar Lebaran.

"Anak-anak di sini diajak bergembira, semua berbagi kebahagiaan bersama dan ikut berpartisipasi juga. Kami harap kegiatan ini bisa mengajarkan toleransi siswa agar mereka memahami dan menghormati keberagaman agama yang ada," tandasnya.

Editor: Caroline Damanik

Sumber: kompas.com

READ MORE - KENALKAN KEBERAGAMAN DAN TOLERANSI SEJAK DINI

BICARA DALAM BAHASA INGGRIS KOK MASIH SULIT YA?

Diposting oleh Pendidikan | Kamis, September 06, 2012




KOMPAS.com - Sejak sekolah dasar belajar bahasa Inggris, tetapi kok enggak juga lancar berbicara dalam bahasa Inggris sampai sekarang ya? Jangankan berbicara, mengerti bacaan dalam bahasa Inggris saja sulit...

Sulit mengingat kata-katanya, sulit mengucapkannya, bingung pada diksi yang harus dipakai dalam konteks yang berbeda-beda, kata-kata bermakna beda tetapi berbunyi sama, atau fasih mengucapkan namun tak bisa menuliskan.

Keluhan ini kerap didengar dari kalangan pekerja. Pasalnya, makin banyak bidang kerja profesional di Jakarta, dan juga daerah, yang bersentuhan dengan bahasa Inggris.

Tak ayal, bahasa Inggris sering dijadikan parameter daya saing dalam berkarier di tengah era globalisasi ini. Sejumlah pimpinan mungkin akan pikir-pikir untuk mempercayakan suatu tugas pada seseorang yang diketahui hanya memiliki kemampuan bahasa Inggris, terutama kemampuan berbicara, yang pas-pasan.

Berbicara bahasa Inggris tidaklah sulit, asal mengenal kendala yang sering membuat seseorang sulit menguasainya. Direktur Wall Street Cabang Kota Kasablanka, Yusuf Seto Pangarso, mengungkapkan alasan utama seseorang selalu merasa sulit berbicara dalam bahasa Inggris. Apa itu?

"Takut salah. Ini kendala utamanya. Ketika mereka takut salah dalam mempraktekkan bahasa Inggris, mereka enggak confident (percaya diri, red)," tuturnya dalam pembukaan cabang baru Wall Street di Kota Kasablanka, Jakarta, Selasa (4/9/2012).

Menurutnya, kemampuan berbicara bahasa Inggris, dan bahasa apa pun, terkait dengan kebiasaan. Jika rajin berbicara dan mengulang-ulang dalam percakapan, kemampuan berbicara dalam bahasa Inggris akan terasah. Oleh karena itu, temukan rekan atau tutor yang tepat untuk mendukung kemampuan Anda berbahasa Inggris.

Practice makes perfect

Yusuf mengatakan Wall Street mengusung semangat ini untuk membiasakan para siswanya berbicara dalam bahasa Inggris. Practice makes perfect, prinsip inilah yang perlu dipegang dalam cita-cita fasih berbicara dalam bahasa Inggris.

"Practice, harus berani ngomong. Atasi rasa takut untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Anggap saja kita bicara dalam bahasa ibu kita. Coba ngomong dan usahakan terus untuk practice," tuturnya.

Yusuf mendorong, untuk mempraktekkan bahasa Inggris dalam pengalaman-pengalaman sederhana sekali pun dalam kehidupan sehari-hari. Jangan takut salah, sekali lagi, itu pesan Yusuf.

Ketika salah, justru perbedaharaan kata seseorang akan bertambah karena dia akan mencari kata yang tepat untuk mengekspresikannya.

Selain itu, tentu saja, sama dengan belajar hal-hal lain, belajar bahasa Inggris membutuhkan komitmen. Tanpa komitmen yang kuat, sulit untuk mencapai kemajuan dalam hal apa pun. Oleh karena itu, kebiasaan mempraktekkan bahasa Inggris harus disertai pula dengan komitmen untuk mengulang hal-hal yang benar dan memperbaiki kesalahan yang dilakukan.

Berbicara dalam bahasa Inggris tak sulit kok....

Sumber: kompas.com

READ MORE - BICARA DALAM BAHASA INGGRIS KOK MASIH SULIT YA?

KURIKULUM SD-SMA DIEVALUASI

Diposting oleh Pendidikan | Senin, September 03, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang mengevaluasi kurikulum pendidikan yang berlaku saat ini yakni Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan 2006. Evaluasi ini melibatkan tokoh pendidikan, tokoh agama, masyarakat, psikolog, dan berbagai kalangan lainnya.

Evaluasi itu dilakukan, kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh, karena banyak persoalan di masyarakat yang erat kaitannya dengan pendidikan. ”Misalnya, mengapa anak-anak sekolah sering tawuran? Apakah pendidikan karakternya kurang? Waktu senggangnya terlalu banyak? atau faktor lain,” kata Nuh. Melalui evaluasi, nanti akan diketahui akar persoalan dan solusinya.

Begitupun dengan kemampuan bahasa Inggris di kalangan siswa yang umumnya masih kurang. Padahal, pelajaran Bahasa Inggris disampaikan setidaknya enam tahun pada jenjang SMP dan SMA, bahkan ada yang mulai sekolah dasar.

Sedang dievaluasi pula, jumlah mata pelajaran di sekolah yang dinilai terlalu banyak. Di SMA saja, jumlah pelajaran yang harus ditempuh siswa sekitar 17 mata pelajaran.

”Apakah perlu sebanyak itu? Lalu apa hasilnya bagi peningkatan kualitas siswa? Ini yang sedang dievaluasi,” kata Nuh.

Efektivitas pembelajaran

Evaluasi itu dilakukan, kata Nuh, untuk efektivitas pembelajaran. Karena itu selain evaluasi, juga dilakukan uji coba dan perbandingan di sejumlah sekolah dengan mengubah jam belajar dari 23 jam per minggu menjadi 30 jam.

”Tapi jumlah mata pelajaran dikurangi atau dipadatkan dengan cara digabung,” kata Nuh yang didampingi Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Hamid Muhammad serta Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan dan Penjaminan Mutu Pendidikan Syawal Gultom.

Secara keseluruhan, evaluasi kurikulum itu meliputi standar isi, proses, evaluasi, dan kompetensi.

Agar evaluasi bersifat independen dan hasilnya akurat, kata Nuh, berbagai profesi dan keahlian dilibatkan. Di sisi lain, Kemdikbud juga membentuk tim evaluasi sendiri. Hasil evaluasi kedua tim ini nantinya akan dipadukan untuk mencari solusi terbaik.

Jika nanti digunakan kurikulum baru, maka kurikulum itu juga bukan adaptasi dari kurikulum asing karena tidak akan selalu sesuai untuk kondisi di Indonesia. ”Dari kajian kami, sekolah yang full day cenderung lebih bagus hasilnya. Anak-anak jelas kegiatannya,” kata Nuh.

Direktur Jenderal Pendidikan Menengah Kemdikbud Hamid Muhammad mengatakan, karena evaluasi masih berlangsung, sampai saat ini belum ada keputusan tentang rencana penambahan jam belajar itu.

Meski demikian, uji coba menambah jam belajar siswa sudah dilakukan di sejumlah sekolah.

”Sedang dikaji kemungkinan jumlah mata pelajaran dikurangi atau digabung untuk mengurangi beban siswa,” kata Hamid.

Sumber: kompas.com

READ MORE - KURIKULUM SD-SMA DIEVALUASI