SEMUA SEKOLAH DI JAKARTA BERMASALAH KARENA...

Diposkan oleh Pendidikan | Minggu, November 18, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com — Semua sekolah, terutama di Jakarta, bermasalah. Demikian penilaian Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama di sela-sela kunjungannya ke SMA Negeri Unggulan MH Thamrin, Jalan Bambu Apus, Cipayung, Jakarta Timur, Rabu (14/11/2012).

Apa yang membuatnya menilai demikian?

"Sebetulnya semua sekolah di Jakarta itu bermasalah karena NEM dijadikan tolok ukur penerimaan," kata Basuki.

Ia menjelaskan, semua sekolah kini mengedepankan hasil nilai ujian untuk menyeleksi siswa barunya. Sementara itu, di sisi lain, banyak siswa miskin yang memiliki kemampuan standar atau bahkan di bawah rata-rata, tetapi ingin merasakan pendidikan berkualitas di sekolah yang baik.

Menurutnya, anak-anak yang berasal dari keluarga mampu selalu dapat mengikuti les atau bimbingan belajar di luar jam sekolah. Walau demikian, siswa dari keluarga miskin sulit merasakan hal serupa karena harus bergumul dengan kesulitan hidup yang menghimpit.

"Para siswa yang mengikuti les pasti anak orang kaya dan nilainya pasti bagus. Lalu bagaimana dengan anak-anak miskin?" tandasnya.

Banyak sekolah, khususnya yang memiliki label rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI), tidak dapat memenuhi instruksi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang mengharuskan sekolah memberikan 20 persen kursinya untuk anak-anak tidak mampu. Alasannya beragam, mulai dari sekolah yang mempersempit akses siswa miskin, hingga karena siswa miskin "ketakutan" belajar di sekolah unggulan karena khawatir dengan tekanan sosial setelahnya.

Sumber: kompas.com

READ MORE - SEMUA SEKOLAH DI JAKARTA BERMASALAH KARENA...

INI DRAF STRUKTUR KURIKULUM BARU SD

Diposkan oleh Pendidikan | Minggu, November 18, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com — Sesuai dengan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 di sektor pendidikan, penataan kurikulum pendidikan menjadi salah satu target yang harus diselesaikan. Rencananya pada Juni 2013 nanti, sekolah yang ada di Indonesia sudah mulai menggunakan kurikulum baru yang kini masih dibahas. Draf perubahan kurikulum sudah dipaparkan di depan Wakil Presiden Boediono, Selasa (13/11/2012).

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan bahwa perubahan kurikulum ini merata untuk setiap jenjang, baik dari sekolah dasar (SD), sekolah menengah pertama (SMP), sekolah menengah atas (SMA), dan sekolah menengah kejuruan (SMK).

"Ini dilakukan di tiap jenjang sekolah. Tujuannya tentu untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah agar anak-anak ini mampu bersaing di masa depan nanti," kata Nuh saat jumpa pers di Kantor Kemdikbud, Selasa (13/11/2012).

Untuk jenjang SD, anak-anak tidak lagi mempelajari masing-masing mata pelajaran secara terpisah pada kurikulum baru ini. Pembelajaran berbasis tematik integratif yang diterapkan pada tingkatan pendidikan dasar ini menyuguhkan proses belajar berdasarkan tema untuk kemudian dikombinasikan dengan mata pelajaran yang ada.

6 mata pelajaran berbasis tematik

Seperti diketahui, mata pelajaran untuk anak SD yang semula berjumlah 10 mata pelajaran dipadatkan menjadi enam mata pelajaran, yaitu Agama, PPKn, Matematika, Bahasa Indonesia, Pendidikan Jasmani dan Kesehatan, serta Seni Budaya dalam kurikulum baru ini. Sementara empat mata pelajaran yang dulu berdiri sendiri, yaitu IPA, IPS, muatan lokal, dan pengembangan diri, diintegrasikan dengan enam mata pelajaran lainnya.

"Memang sewajarnya seperti itu. IPA dan IPS dijadikan penggerak dan masuk dalam materi bahasan semua mata pelajaran. Begitu pula dengan mulok dan pengembangan diri itu kaitannya nanti dengan seni budaya," ujar Nuh.

Dengan pemadatan mata pelajaran dan pembelajaran berbasis tema ini, anak-anak juga tidak akan lagi kerepotan membawa buku  yang banyak dalam tasnya. Nuh mengungkapkan dengan pendekatan tematik ini, anak-anak hanya perlu membawa paling tidak dua atau tiga buku sesuai dengan tema yang dipilih pada minggu tersebut.

Belajar di sekolah lebih lama

Namun, berkurangnya mata pelajaran dalam kurikulum ini justru membuat durasi belajar anak di sekolah bertambah. Nuh menjelaskan bahwa metode baru ini mengharuskan anak-anak untuk ikut aktif dalam pembelajaran dan mengobservasi setiap tema yang menjadi bahasan.

"Pola ini tentu tidak bisa dilakukan dengan durasi belajar sebelumnya. Untuk itu ditambah sebanyak empat jam pelajaran per minggu," kata Nuh.

Dengan demikian, untuk kelas I-III yang awalnya belajar selama 26-28 jam dalam seminggu bertambah menjadi 30-32 jam seminggu. Sementara pada kelas IV-VI yang semula belajar selama 32 jam per minggu di sekolah bertambah menjadi 36 jam per minggu.

"Penambahan jam belajar ini masih sesuai karena dibandingkan negara lain, Indonesia terbilang masih singkat durasinya untuk anak usia 7-9 tahun," ungkap Nuh.

Pramuka jadi ekskul wajib

Dari berbagai paparan di atas, Bahasa Inggris yang sebelumnya sempat disebut-sebut akan dihilangkan memang tidak tercantum dalam salah satu mata pelajaran yang ada. Ternyata untuk tingkat SD ini, Bahasa Inggris masuk dalam kegiatan ekstra kurikuler bersama dengan Palang Merah Remaja (PMR), UKS, dan Pramuka.

"Pramuka ini akan jadi ekskul wajib untuk berbagai jenjang tidak hanya di SD. Nanti akan dibicarakan juga dengan Kemenpora," tuturnya.

Demikian bentuk kurikulum baru yang akan diberlakukan pada anak-anak tingkat SD. Sistem pembelajaran berbasis tematik integratif ini telah dijalankan di banyak negara, seperti Inggris, Jerman, Perancis, Finlandia, Skotlandia, Australia, Selandia Baru, sebagian Amerika Serikat, Korea Selatan, Singapura, Hongkong, dan Filipina.

Sumber: kompas.com

READ MORE - INI DRAF STRUKTUR KURIKULUM BARU SD

KURIKULUM BARU, ADA WACANA BUKU PELAJARAN GRATIS

Diposkan oleh Pendidikan | Minggu, November 18, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk kurikulum baru yang diterapkan pada Juni 2013 nanti dikabarkan buku-buku pelajaran akan diberikan secara gratis pada guru dan siswa. Tentunya hal ini membuat penerbit buku  merasa khawatir dengan kebijakan yang diperkirakan berlaku pada 2013 ini.

Kepala Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemdikbud, Diah Harianti, mengatakan bahwa pihaknya masih menyiapkan model buku dan belum mengetahui perihal masalah percetakan. Namun ia mengakui wacana untuk memberikan buku pelajaran secara gratis memang ada.

"Kami siapkan saja semuanya. Dicetak oleh negara atau swasta, kami masih belum tahu. Tapi untuk buku gratis itu memang ada rencana," kata Diah kepada Kompas.com, Jumat (16/11/2012).

Terkait wacana ini, ia mengungkapkan bahwa pihaknya selalu mengingatkan pada para penerbit agar tidak bergantung pada pembuatan buku pelajaran sekolah saja. Pasalnya, suatu hari nanti buku pelajaran sekolah ini memang akan digratiskan untuk para guru dan siswa.

"Sekarang sudah ada program wajar 12 tahun yang semestinya sudah bebas biaya untuk negeri. Tapi walaupun ada yang gratis, urusan buku kadang belum sepenuhnya bebas biaya," ujar Diah.

"Padahal urusan buku ini yang kerap dikeluhkan oleh orang tua siswa karena tidak murah. Untuk itu, buku pelajaran digratiskan ini mungkin terjadi," imbuhnya.

Sementara itu Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Musliar Kasim, mengatakan bahwa banyak keluhan yang masuk karena urusan buku yang memakan biaya besar dari para orang tua siswa. Ditambah lagi, kurikulum yang berlaku saat ini memang membutuhkan buku yang banyak.

"Nanti akan disuplai langsung dari pemerintah untuk buku. Ini bisa menghemat pengeluaran pendidikan juga bagi orang tua," ujar Musliar.

Sumber: kompas.com

READ MORE - KURIKULUM BARU, ADA WACANA BUKU PELAJARAN GRATIS

GURU: UNTUK NASIONAL, UKG LEBIH BAIK TERTULIS SAJA

Diposkan oleh Pendidikan | Jumat, November 09, 2012



JAKARTA, KOMPAS.com - Uji Kompetensi Guru (UKG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih menyisakan berbagai persoalan. Salah satunya adalah kendala jaringan sambungan internet yang terjadi di beberapa wilayah di Indonesia.

Salah seorang guru SMK Negeri 2 Raha, Muna, Sulawesi Tenggara yaitu La Ode Daerah, mengatakan bahwa pelaksanaan UKG yang telah dilaksanakan beberapa waktu lalu masih terkendala masalah jaringan. Menurutnya, akan lebih efektif jika UKG dilakukan dengan metode tertulis.

"Sebenarnya kalau kebutuhannya untuk nasional, ya lebih baik dilakukan secara tertulis karena tidak semua daerah bisa mengakses jaringan dengan baik," kata La Ode kepada Kompas.com, Jumat (9/11/2012).

Ia menuturkan bahwa wilayahnya yang berada di Sulawesi Tenggara tersebut sulit mendapat jaringan untuk sambungan internet. Bahkan terkadang soal yang diujikan juga tidak keluar secara lengkap karena sinyal internet yang lemah di wilayahnya.

Terkait dengan pelaksanaan UKG lanjutan yang telah digelar sejak Senin (5/11/2012) lalu, ia mengatakan bahwa pihaknya belum mendapat sosialisasi dari pihak Dinas Pendidikan setempat. "Sampai saat ini belum ada sosialisasi tentang UKG lanjutan ini. Jadi kami juga tidak tahu itu akan dilaksanakan di sini atau tidak," jelas La Ode.

Seperti diberitakan sebelumnya, UKG kembali dilakukan pada Senin lalu sebagai kelanjutan dari UKG Gelombang Kedua yang semestinya selesai pada Jumat (2/11/2012) lalu. Pelaksanaan UKG lanjutan ini diperuntukkan bagi para guru yang tidak ikut lantaran sedang menunaikn ibadah haji atau sakit.

Beberapa daerah juga memilih menyelenggarakan UKG secara tertulis karena keterbatasan sinyal dan listrik yang belum dapat menjangkau daerah-daerah tersebut. Sebagian besar daerah tersebut memang berada di Provinsi Sulawesi Tenggara.

Sumber: kompas.com

READ MORE - GURU: UNTUK NASIONAL, UKG LEBIH BAIK TERTULIS SAJA

DARI GAMBAR PENYU TURUN KE PERILAKU

Diposkan oleh Pendidikan | Jumat, November 09, 2012



TANGERANG, KOMPAS.com - Mau menyelamatkan lingkungan hidup di masa depan? Mulailah dari anak-anak.

Ini sangat dipercaya oleh Oppie Andaresta saat merintis sampai melaksanakan kampanye Tur Edukasi Bumiku Lestari ke sekolah-sekolah di Jabodetabek dan sejumlah sekolah di luar Jawa. Menurutnya, anak-anak adalah agen perubahan yang efektif untuk menjamin keseimbangan ekosistem di masa depan.

Oleh karena itu, transfer pesan dilakukan pula dengan cara anak-anak, cara yang menyenangkan dan menarik. Bisa lewat musik, lagu dan tarian, lewat dongeng dan storytelling, lewat baca buku  atau lewat kegiatan menggambar dan mewarnai.

Dalam tur yang dilakukan ke 9 sekolah se-Jabodetabek yang akan digelar 3-20 November mendatang, untuk anak-anak usia taman kanak-kanak (TK) sampai sekolah dasar (SD), Oppie dan kru menyampaikan pesan pola hidup ramah lingkungan melalui dongeng, lagu dan musik serta kegiatan mewarnai. Dalam tur yang dilakukan di Sekolah Harapan Bangsa, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, Rabu lalu, kru Mobil Panda dari World Wild Fund (WWF) yang digandeng sebagai mitra tur menyiapkan gambar penyu dan orang utan dalam warna hitam putih.

Anak-anak yang duduk di kelas Kelompok Bermain (KB) tampak antusias saat mewarnai dengan pensil warna dan krayon yang sudah disediakan oleh panitia tur. Meski waktu akan segera habis, sebagian besar masih asyik mewarnai kertas bergambar yang mereka telah terima.

"Dengarkan anak-anak. Segera kumpulkan gambarnya ya. Kita akan ada acara mendengarkan lagu dan musik lagi di luar," ungkap Sri, salah satu guru KB dalam bahasa Inggris, bahasa pengantar di sekolah ini.

"Zea belum selesai?" tanyanya kepada seorang siswanya.

Gadis kecil berambut panjang itu menggeleng. Dia masih asyik berkreasi mewarnai gambar penyu laut yang diterimanya sambil sesekali sibuk memilih krayon di depannya. Setelah ditunggu, akhirnya Zea mengumpulkan hasil kreasinya itu.

Penyu diwarnainya dengan warna hijau muda, laut dengan warna biru dan tulisan 'Sahabat Satwa: Penyu' di atasnya dengan warna merah muda. Ketika ditanya tentang gambar apa, Zea mengangguk lalu menjawab sambil tersenyum.

"Ini gambar penyu. Hidupnya di laut yang bersih," tuturnya.

Sementara itu, teman Zea, Nathaya, akhirnya selesai mewarnai gambar orang utan. Dengan malu-malu, Nathaya mengatakan orang utan hidup di hutan.

"Hutan dijaga supaya orang utan bisa hidup," ungkapnya polos.

Sri mengatakan bahwa sebelum mewarnai anak-anak diberi penjelasan terlebih dahulu bahwa satwa-satwa ini perlu dilindungi. Caranya, dengan menjaga kelestarian alam sekitar. Paling tidak, lanjutnya, para siswanya terus dilatih untuk membuang sampah pada tempatnya.

Turun ke perilaku

Melalui kampanye seperti ini, anak-anak lebih mudah menerima pesan yang ingin disampaikan. Dari gambar, lagu, dongeng sampai prakarya, pesan positif yang ingin ditanamkan bisa diterima dengan mudah oleh otak anak dan akhirnya turun ke perilaku.

Namun, upaya ini butuh waktu panjang. Orangtua dan guru menjadi ujung tombak dari kampanye-kampanye mengenai pola hidup yang positif bagi anak.

Kepala SD dan SMP Skeolah Harapan Bangsa, Melany K Gigir mengatakan, sekolah memiliki program berkala yang diintegrasikan dalam interaksi dan pengajaran di sekolah setiap hari. Selain itu, sekolah juga kerap membina komunikasi yang efektif dengan orangtua siswa untuk memberitahukan kebiasaan-kebiasaan positif yang tengah diupayakan sekolah bagi anak-anaknya.

"Kita ada pertemuan orangtua murid dan guru yang rutin. Jadi kita sampaikan program sekolah dan kebiasaan di sekolah yang sedang dikembangkan. Kalau di sekolah kita ajarin tapi kalau di rumah enggak diterusin kan sama aja," tuturnya.

Romi, salah satu orangtua murid yang didaulat sebagai gitaris bintang tamu dalam tur ini mengatakan juga turut memberi pengajaran tentang pola hidup ramah lingkungan kepada anaknya, Fae, yang masih berusia playgroup.

"Iya, kita sinergi dengan sekolah. Saya ajarin ke anak saya untuk buang sampah misalnya pada tempatnya, kalau lagi sikat gigi pakai gelas, terus kalau misalnya mau ke tempat yang dekat, naik sepeda aja. Kebetulan, saya aktif Bike to Work," katanya di sela acara tur.

Menurutnya, anak-anak perlu diingatkan dengan teladan dan cara-cara yang menarik. Dengan demikian, dia memiliki pola perilaku yang positif untuk lingkungan sekitarnya.

Sumber: kompas.com

READ MORE - DARI GAMBAR PENYU TURUN KE PERILAKU