KHALIFAH UMAR BIN ABDUL AZIZ

Diposkan oleh Pendidikan | Senin, Maret 01, 2010

Khalifah Umar bin Abdul Aziz adalah putra seorang gubernur Mesir. Ayahnya benama Abdul Aziz seorang gubernur Mesir yang disegani. Khalifah Umar bin Abdul Aziz lahir pada tahun 63 H di kota Halwan dekat Kairo. 
Dari garis keturunan ibunya, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memiliki ikatan darah dengan Khalifah Umar bin Khattab r.a.. Ibu Umar bin Abdul Aziz bernama Umu Ashim binti Ashim bin Umar bin Khattab r.a.. 
Ada yang mengatakan karena memiliki garis keturunan dengan Umar bin Khattab, Umar bin Abdul Aziz juga mewarisi sifat-sifat mulia seperti yang ada pada Umar bin Khattab r.a.. Sifat-sifat itu antara lain pemberani, adil, dan kasih sayang serta mencintai ilmu pengetahuan.
Ketika masih kecil, Khalifah Umar bin Abdul Aziz tinggal di kota Madinah bersama pamannya. Di kota Madinah itulah Umar bin Abdul Aziz memulai pendidikannya. Kota Madinah pada saat itu menjadi pusat ilmu agama khususnya ilmu Alquran, hadis, fiqih, dan lain-lain. Hal ini dikarenakan di kota Madinah banyak menetap para tokoh dan ulama masyhur. 
Khalifah Umar bin Abdul Aziz belajar hadis dari para ulama terkenal di kota Madinah, di antaranya Anas bin Malik, Abdullah bin Ja’far bin Abi Thalib, Ibnu Qarith, Yusuf bin Abdillah, Amir bin Sa’ad, dan sebagainya. 
Setelah menguasai hadis, dari banyak para tokoh yang belajar hadis, nama Umar bin Abdul Aziz menyamai nama-nama ulama hadis terkenal saat itu. Seperti nama az Zuhry, Yahya bin Anshary, Masalamah bin Abdul Malik, dan Raja’ bin Haiwah.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz belajar Alquran dari seorang ulama bernama Ubaidillah bin Abdullah. Sebenarnya, sejak kecil Khalifah Umar bin Abdul Aziz sudah belajar Alquran dengan cara menghafal. Dengan demikian, Khalifah Umar bin Abdul Aziz pun seperti ulama-ulama lainnya juga mampu menghafal Alquran. 
Karier politiknya diawali ketika Khalifah Umar bin Abdul Aziz muda diminta oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan untuk datang ke kota Damaskus. Karena tertarik dengan kepribadian Umar bin Abdul Aziz, Khalifah Abdul Malik bin Marwan kemudian mengambil Umar bin Abdul Aziz sebagai menantu. Umar bin Abdul Aziz dinikahkan dengan putri Khalifah Abdul Malik yang bernama Fatimah.
Sejak saat itu, Umar bin Abdul Aziz kemudian terlibat dalam dunia politik. Berkat kecakapannya, pada masa Khalifah al Walid bin Abdul Malik berkuasa, Umar bin Abdul Aziz kemudian diangkat menjadi gubernur kota Hijaz. Kota Hijaz adalah sebutan untuk dua kota penting, yakni Mekah dan Madinah. 
Saat menjabat menjadi gubernur di kota Hijaz, nama Umar bin Abdul Aziz menjadi sangat masyhur. Adapun yang menjadikan dirinya masyhur adalah karena kebijaksanaan dan kasih sayangnya kepada rakyat. Selama menjabat menjadi gubernur, banyak kemajuan dibuatnya di kota Hijaz. Jasa yang paling menonjol adalah Umar bin Abdul Aziz telah membangun fasilitas jalan dari Mekah ke Madinah yang dilengkapi dengan pos-pos penjagaan dan sumur-sumur. Sehingga dengan fasilitas-fasilitas itu pelaksanaan ibadah haji menjadi lebih mudah dan nyaman. 
Akan tetapi, hal itu tidak berlangsung lama. Karena keirian Gubernur al Hajaj bin Yusuf melihat kesuksesan yang diraih Gubernur Umar bin Abdul Aziz, dia kemudian memfitnah Umar bin Abdul Aziz. Berkat kedekatannya dengan Khalifah al Walid bin Abdul Malik, al Hajaj berhasil meyakinkan Khalifah al Walid. Al Walid memercayai bahwa Gubernur Umar bin Abdul Aziz melindungi para pemberontak dari wilayah Irak. 
Hasilnya, Umar bin Abdul Aziz pun harus menerima nasib pahit. Khalifah al Walid bin Abdul Malik memecat Umar bin Abdul Aziz dari jabatan gubernur. Namun anehnya, Umar bin Abdul Aziz tidak marah dan kecewa dengan perlakuan tersebut. Mengapa? Karena Umar bin Abdul Aziz memang tidak berambisi ingin menjadi penguasa. Baginya, menduduki jabatan adalah memangku amanat rakyat, melayani rakyat, jadi bukan untuk meraih kekuasaan atau uang. Hal ini yang hebat dari pribadi Umar bin Abdul Aziz.
Bagaimana Umar bin Abdul Aziz kemudian dapat diangkat menjadi khalifah Dinasti Bani Umayyah? Menurut cerita, bahwa putra Khalifah Abdul Malik yang bernama Sulaiman bin Abdul Malik ketika sakit bertanya kepada orang dekatnya, Raja’ bin Haiwah tentang siapakah orang yang cocok menjadi khalifah sebagai penggantinya. Raja’ bin Haiwah menjawab Umar bin Abdul Aziz dan sepertinya Khalifah Sulaiman setuju. Kemudian diam-diam Khalifah Sulaiman membuat sebuah surat wasiat yang isinya, jika dia meninggal, penggantinya adalah Umar bin Abdul Aziz. Akan tetapi, surat wasiat itu disembunyikan hingga suatu hari Umar bin Abdul Aziz mendengarnya. Namun, ketika mendengar desas-desus itu, Umar bin Abdul Aziz kemudian bertanya kepada Raja’ bin Haiwah. Namun, Raja bin Haiwah berpura-pura tidak tahu. 
Setelah surat wasiat ditulis, Khalifah Sulaiman meninggal. Menurut cerita, Khalifah Sulaiman sangat bahagia karena telah memercayakan kekuasaannya kepada orang yang tepat. Setelah Khalifah Sulaiman meninggal, barulah surat wasiat itu dibacakan. Dalam catatan, surat wasiat itu ada dua nama calon pengganti khalifah, yang pertama Umar bin Abdul Aziz dan kedua Yazid bin Abdul Malik. 
Setelah diumumkan, rakyat kemudian membaiat setia kepada Umar bin Abdul Aziz. Namun, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memang tidak punya ambisi untuk menjadi penguasa sehingga ketika dia dibaiat menjadi khalifah dia justru berkata, ”Inna lillahi wainna ilaihi raji‘un.” 
Di atas sebuah mimbar, Khalifah Umar bin Abdul Aziz menyampaikan pidato yang isinya sangat menyentuh hati, ”Wahai hadirin sekalian, aku telah dibebani tugas dan tanggung jawab yang sangat berat, padahal tanpa terlebih dahulu meminta pendapatku. Jabatan ini juga bukan atas permintaanku. Aku membebaskan kalian dari membaiatku. Silakan kalian memilih orang yang kalian sukai untuk menjadi khalifah.”
Namun, apa yang terjadi? Rakyat justru semakin tertarik dengan pribadi Umar bin Abdul Aziz. Begitu dia turun dari mimbar, rakyat pun segera ramai-ramai membaiatnya. Meskipun demikian, itu tidak membuat Umar bin Abdul Aziz berbangga dan bahagia. Bahkan, menurut cerita, Umar bin Abdul Aziz segera pulang ke rumahnya dan menangis. Melihat Umar bin Abdul Aziz menangis, istrinya Fatimah bertanya. Kemudian Umar bin Abdul Aziz menjawab, ”Aku telah dipilih menjadi khalifah. Aku melihat di pelupuk mataku, beban berat di pundakku, penderitaan orang-orang miskin dan lemah.”
Dalam hal ini terlihat bahwa pribadi Umar bin Abdul Aziz itu benar-benar berbeda sekali dengan para khalifah dari Dinasti Bani Umayyah lainnya. Karena hampir semua para khalifah dari Dinasti Bani Umayyah berambisi ingin menjadi khalifah, tetapi Umar bin Abdul Aziz tidak.
Sikap yang serupa juga pernah diperlihatkan oleh Umar bin Abdul Aziz ketika dicopot dari jabatan gubernur Hijaz oleh Khalifah Abdul Malik. Khalifah Abdul Malik yang memercayai penuh apa yang dikatakan Hajaj bin Yusuf, akhirnya mencopot Umar bin Abdul Aziz karena diisukan menampung para pemberontak dari Irak. Sementara, saat itu Hajaj bin Yusuf adalah gubernur Irak. Dia sebenarnya iri dengan sikap masyarakat yang senang dan menghormati Umar bin Abdul Aziz. 
Hajaj bin Yusuf sendiri dikenal sebagai orang yang sangat kejam dan lalim. Akibatnya, ketika dia menjabat gubernur di Irak banyak orang Irak yang meninggalkan Irak dan pergi ke Madinah dan Mekah. Orang-orang ini kemudian diterima dengan baik oleh Umar bin Abdul Aziz dan diperbolehkan tinggal di wilayah kekuasaannya.
Hajaj bin Yusuf adalah orang yang berambisi akan kekuasaan dan menjilat kepada khalifah Dinasti Bani Umayyah. Ayah Khalifah Abdul Malik yakni Marwan dikatakan sangat dekat dengan Hajaj.
Menurut Umar bin Abdul Aziz sendiri, ada tiga orang yang kuat dan selalu menyebarkan penderitaan dan kezaliman. Mereka adalah Hajaj bin Yusuf gubernur Irak, Usman bin Hayyan gubernur Hijaz, dan Qura bin Syarik gubernur Mesir. Jika ada salah satu dari mereka, di sanalah terjadi kezaliman.
Tidak seperti kebanyakan dari khalifah Dinasti Bani Umayyah yang benci dan kejam kepada kelompok ahlul bait atau pengikut Ali bin Abi Thalib r.a.. Khalifah Umar bin Abdul Aziz justru menghormatinya. Bahkan, Umar bin Abdul Aziz telah memerintahkan agar kebiasaan buruk mencela Ali bin Abi Thalib r.a. dan keluarganya saat berkhotbah Jumat harus dihilangkan. Hal ini harus segera dihentikan, karena menurut Umar bin Abdul Aziz merupakan tindakan yang tidak adil.
Sikap yang bijaksana seperti itulah yang membuat kelompok ahlul bait, Bani Hasyim, Alawiyin, atau pengikut Fatimah menghormati Khalifah Umar bin Abdul Aziz.

Sumber: Tasirun Sulaiman