ABU JA’FAR AL MANSUR

Diposkan oleh Pendidikan | Jumat, Maret 05, 2010

Khalifah Abu Abbas as Saffah diakui sebagai pendiri sekaligus peletak Dinasti Bani Abbasiyah. Akan tetapi, Abu Abbas sebenarnya tidak lama menjalankan roda pemerintahan karena dia sakit dan meninggal pada tahun 754 M. Hanya kurang dari lima tahun Abu Abbas mengendalikan roda pemerintahan. Sehingga hanya sedikit saja kebijakan yang dibuatnya. Sebagai penggantinya diangkatlah Abu Ja’far al Mansur.
Abu Ja’far al Mansur adalah saudara Abu Abbas. Dia adalah putra Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas bin Abdul Muthalib. Dia lahir di kota Hamimah pada tahun 712 M. Ibunya bernama Salamah, bekas seorang hamba sahaya. Dia juga bersaudara dengan Abu Abbas dan Ibrahim al Imam. Mereka bertiga dikenal sebagai tokoh pendiri Dinasti Bani Abbasiyah.
Sebutan al Mansur sendiri adalah gelar takhta yang ditambahkan kepada nama aslinya. Gelar takhta itu ternyata lebih populer dan mudah dikenal daripada nama aslinya. Ini menjadi semacam tradisi dalam kekhalifahan Dinasti Bani Abbasiyah. Seperti as Saffah untuk Abu Abbas, al Rasyid untuk Harun, al Amin, al Makmun, dan lain-lain.
Apa yang membuktikan bahwa Abu Ja’far al Mansur itu tangguh? Adalah peristiwa pengangkatan dirinya menjadi khalifah. Ketika diangkat, Abu Ja’far al Mansur masih sangat muda, maka banyak pihak yang tidak setuju. Mereka juga melakukan pemberontakan.
Hal itu menjadi permasalahan bagi Abu Ja’far al Mansur untuk menyelesaikannya. Di sinilah dia kemudian diuji kehebatannya. Dia harus dapat mengalahkan lawan-lawan politiknya yang dipandang dapat menghancurkannya.
Abu Ja’far al Mansur memiliki kepribadian yang kuat dan tegas. Dia tidak segan-segan menggunakan cara-cara kekerasan untuk menghabisi lawan-lawan politiknya. Dia juga tidak pandang bulu terhadap orang yang menentangnya meskipun saudaranya sendiri.
Masih ingatkah kamu seorang Gubernur Syiria (Suriah dalam bahasa Arab) dan Mesir yang tidak setuju dengan pengangkatan dirinya? Siapa namanya? Bagaimana nasib mereka berdua? Mereka dibunuh, bukan? Meski mereka itu masih pamannya sendiri.
Setelah diangkat menjadi khalifah, Abu Ja’far al Mansur segera membuat beberapa perombakan dalam bidang pemerintahan. Dia mulai menerapkan sistem baru. Dia mengangkat seorang wazir. Wazir yang bertugas sebagai seorang koordinator antardepartemen yang ada. Jabatan wazir ini hampir mirip dengan perdana menteri.
Wazir pertama yang diangkat Abu Ja’far al Mansur adalah Khalid bin Barmak. Dia berasal dari suku Balk, Persia. Bangsa Persia (Iran) yang pada masa Dinasti Bani Umayyah dimusuhi, tetapi pada masa Dinasti Bani Abbasiyah mendapatkan perhatian yang berlebih. Khalid bin Barmak menurut catatan adalah orang yang sangat berpengaruh dalam hal menentukan kebijakan-kebijakan.
Kedekatan Dinasti Bani Abbasiyah ditandai dengan adanya beberapa khalifah yang menikah dengan wanita-wanita dari Persia. Para putra mahkota juga sejak kecil mendapatkan didikan dari orang-orang terkenal yang berasal dari bangsa Persia. Khalid bin Barmak termasuk orang yang dipercaya untuk mendidik dan mengajar para putra mahkota.
Kamu tentu masih ingat dengan al Hajjaj, orang yang paling dekat dengan Dinasti Bani Umayyah? Dia sangat dekat karena menjilat dan menjadi pengikut fanatik penguasa Dinasti Bani Umayyah. Bahkan, dia dikenal sangat dekat dengan Khalifah Marwan bin Hakam. Karena fanatiknya dengan Dinasti Bani Umayyah, dikisahkan bahwa dia pernah berkata, ”Kalau saya harus memindahkan Kakbah ke Damaskus demi Dinasti Bani Umayyah, niscaya aku melakukannya. Aku akan gotong batu Kakbah satu demi satu dengan tanganku sendiri”.
Khalid bukanlah al Hajjaj yang kejam dan bengis. Khalid bin Barmak sangat mencintai ilmu pengetahuan. Sehingga para khalifah Dinasti Bani Abbasiyah rata-rata mencintai ilmu pengetahuan. Hal inilah yang diberikan bangsa Persia kepada pemerintahan Dinasti Bani Abbasiyah.
Selain itu, Abu Ja’far al Mansur juga mulai menerapkan tradisi protokoler. Tradisi protokoler ini mirip dengan lembaga sekretariat negara. Lembaga ini bertugas mengatur jadwal pertemuan dengan khalifah. Para tamu yang mau bertemu dengan khalifah harus terlebih dahulu melapor dan menjelaskan keperluannya. Dengan adanya tradisi protokoler ini, para tamu tidak mudah bertemu dengan khalifah.
Kepentingan para tamu terlebih dahulu akan dipertimbangkan oleh lembaga ini. Jika kepentingan itu dinilai laik, barulah akan disampaikan ke khalifah. Bagitu juga dengan pihak khalifah. Dia bisa mempertimbangkan terlebih dahulu. Jika khalifah setuju, barulah mereka bisa dipertemukan. Jadi, aturan yang harus dilalui seorang tamu yang mau bertemu khalifah menjadi panjang dan membutuhkan waktu yang lama.
Coba kamu ingat! Apakah Rasulullah saw. dan para khulafaur rasyidin begitu? Mereka siap menerima siapa pun dan kapan pun. Mereka memposisikan dirinya menjadi pelayan dan abdi rakyat. Bukan minta dilayani! Inilah kehebatan Rasulullah saw. dan para khulafaur rasyidin.

Sumber: Tasirun Sulaiman