HARUN AL RASYID

Diposting oleh Pendidikan | Jumat, Maret 05, 2010

Khalifah Harun al Rasyid lahir di kota Ray pada bulan Februari tahun 763 M. Dia lahir dari pasangan al Mahdi dan Khaizuran. Ayahnya seorang khalifah ketiga Dinasti Bani Abbasiyah. Masa kecilnya dihabiskan di istana, di bawah didikan seorang yang arif dan bijaksana, Yahya bin Khalid namanya. Yahya bin Khalidlah yang kemudian banyak memberikan pengaruh dalam pembentukan pribadi Harun al Rasyid.
Pada usia dewasa, Harun al Rasyid telah mendapatkan latihan kepemimpinan dari ayahnya. Dia mendapatkan tugas dan tanggung jawab terlibat dalam pemerintahan. Dia diangkat ayahnya menjadi seorang gubernur di wilayah Saifah. 
Kebijakannya dalam hal kepemimpinan sangat luar biasa. Untuk menjalankan tugas yang dipercayakan ayahnya, Harun al Rasyid telah mengangkat beberapa staf ahli. Merekalah yang membantu memberikan masukan dan menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapi dirinya.
Kesuksesannya menjadi gubernur di Saifah telah menjadikan namanya kian dikenal dan masyhur. Oleh sebab itu, kemudian dia diangkat kembali menjadi gubernur untuk periode kedua. 
Ada beberapa segi kepribadian menonjol yang membuat Khalifah Harun al Rasyid dikagumi banyak orang. Dia adalah seorang pejabat yang rendah hati dan suka menyelesaikan masalah dengan cara-cara damai. Tradisi ini tidak seperti biasanya, karena para penguasa biasanya suka menggunakan cara-cara kekerasan. Apalagi kepada lawan-lawan politiknya.
Akhlaknya yang terpuji menjadikan dirinya banyak disegani dan disukai orang. Dia juga pribadi yang suka mendengarkan masukan dari orang lain. Kesukaannya kepada ilmu pengetahuan juga sangat tinggi. Dia senang sekali berdiskusi dengan para tokoh ilmuan, baik ahli ilmu agama atau ilmu pengetahuan umum. Untuk alasan ini Khalifah Harun al Rasyid suka mengundang para ahli untuk datang ke kediamannya.
Sesuatu yang unik dari pribadi Harun al Rasyid adalah suka mendengarkan lelucon atau humor. Untuk hobinya yang satu ini, Harun al Rasyid mempunyai seorang pelawak pribadi yang suka menghibur dirinya. Bahkan, pelawak ini juga suka diajak pergi menemani dirinya ke mana-mana. 
Tahukah kamu bahwa banyak buku-buku humor sufistik yang menceritakan seorang sufi bernama Bahlul yang dekat dengan Harun al Rasyid? Cobalah cari buku humor-humor sufistik itu dan bacalah, pasti kamu akan banyak mendapatkan cerita-cerita yang lucu dan menggelitik. Dalam humor yang lucu itu juga terkandung banyak kearifan dan kebijaksanaan.
Dalam sebuah kisah yang diceritakan Ibnu Atsir, dikatakan Harun al Rasyid memiliki seorang pelawak pribadi yang sangat disayanginya. Dia bernama Ibnu Abi Maryam. Karena kecintaannya kepada pelawak itu, dia tidak pernah marah kepadanya meskipun dia bertingkah konyol.
Dikisahkan, ada suatu peristiwa yang kemudian ternyata membuat Harun al Rasyid marah kepada pelawak pribadinya itu. Ceritanya berawal ketika Harun al Rasyid sedang menjalankan salat subuh. Harun al Rasyid yang kebetulan membaca sebuah ayat yang artinya berbunyi, ”Kenapa aku tidak menyembah Tuhan yang telah menciptakan aku”. Tiba-tiba pelawak itu yang menjadi makmumnya ikut nyeletuk dan menjawab, ”Demi Tuhan aku pun tidak tahu!” 
Mendengar jawaban makmumnya, Harun al Rasyid spontan membatalkan salatnya dan menegur Ibnu Abi Maryam. Harun al Rasyid memperingatkan Ibnu Abi Maryam agar tidak main-main dengan ayat Alquran. Dia boleh dan mengizinkan bercanda apa saja tetapi tidak dengan ayat Alquran. Harun al Rasyid paham bahwa Ibnu Abi Maryam melakukan hal itu untuk menghibur dirinya. Baginya bercanda dengan ayat Alquran itu tidak bisa diterima dan dibenarkan. Ini menyangkut masalah yang sangat penting dalam agama Islam.
Harun al Rasyid juga terkenal sangat pemaaf. Dia paling takut melakukan tindakan yang melanggar hukum Allah swt. atau melakukan kezaliman. Zalim adalah tindakan yang menurutnya akan menimpakan kezaliman di akhirat kelak.
Suatu ketika seorang penyair ternama bernama Abu Athahiyah dimasukkan ke penjara karena suatu kasus. Di dalam penjara ternyata Abu Athahiyah yang penyair itu menulis sebuah syair di dinding tembok penjara. Tulisan Abu Athahiyah berbunyi, ”Kita semua akan menghadap Tuhan di akhirat kelak. Semua pihak yang berseteru dan bermusuhan akan dipertemukan.”
Mendengar laporan dari petugas penjara, Harun al Rasyid segera memanggil Abu Athahiyah dan menanyakan hal itu. Setelah mendapatkan penjelasan, Harun al Rasyid kemudian menghadiahkan uang sebesar 1.000 dinar dan membebaskannya. Bukankah itu sifat yang jarang dimiliki seorang penguasa, minta maaf?
Harun al Rasyid adalah khalifah kelima. Dia diangkat menggantikan saudaranya al Hadi pada tahun 786 M. Pada masa pemerintahan Harun al Rasyid, Dinasti Bani Abbasiyah mencapai puncak prestasi di segala bidang, seperti politik, ilmu agama, ilmu pengetahuan, dan seni. Baghdad pada zamannya menjadi kota dunia yang sangat terkenal dan dikunjungi banyak orang. 
Lalu langkah-langkah dan kebijakan-kebijakan apa saja yang telah dibuat Harun al Rasyid sebagai khalifah kelima hingga membawa keharuman nama Dinasti Bani Abbasiyah?

Sumber: Tasirun Sulaiman